u3-photo_6102560005887298917_y-3
Gema Masrahiyyah: Mengasah Literasi Arab melalui Seni Peran

Rabu, 18 Februari 2026
Penulis : Laeli Rizki Amalia, S.Hum

SMP Az-Zainiyah Nahdatul Wathan, 7 Februari 2026 – Suasana malam di lapangan sekolah tampak berbeda dari biasanya. Pendaran lampu panggung dan dekorasi yang megah menandai dimulainya ajang bergengsi: Gema Masrahiyyah 2026. Perlombaan drama bahasa Arab antar kelas ini menjadi panggung pembuktian bagi peserta didik kelas 7, 8, dan 9 untuk menunjukkan kemahiran mereka dalam berbahasa arab sekaligus beradu peran.

Tepat pukul 20.00 WIB, acara dibuka dengan riuh rendah dukungan dari masing-masing kelas. Namun, di balik kemilau lampu panggung, terdapat proses panjang yang telah mengasah kedewasaan para peserta didik.

Gema Masrahiyyah bukan sekadar ajang kompetisi antar kelas. Ini adalah ruang bagi para peserta didik untuk meruntuhkan dinding kecemasan dalam berbahasa Arab. Di panggung ini, kosa kata tidak hanya dihafal, tapi dirasakan, tata bahasa tidak hanya ditulis, tapi disuarakan melalui ekspresi seni peran yang memukau.

Keberhasilan penampilan malam itu merupakan buah dari kerja keras kolektif. Setiap anggota kelas bahu-membahu membagi tugas (jobdesk) dengan sangat terorganisir, di antaranya:

  • Tim Literasi: Menyusun naskah cerita dan berjuang menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
  • Tim Artistik: Berkreasi membuat properti panggung dan menyiapkan kostum yang ikonik.
  • Tim Estetika: Mengatur tata rias (make-up) agar karakter tokoh semakin hidup.

Proses kolaboratif ini menjadi ajang latihan nyata bagi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memperkuat kerja sama tim (teamwork), serta membangun kepercayaan diri yang tinggi saat tampil di depan publik.

Untuk menjaga sportivitas, dewan juri menetapkan lima instrumen penilaian utama:

  1. Bahasa (Lughah) (30%) – Ketepatan tata bahasa dan pilihan kata.
  2. Akting (25%) – Penjiwaan karakter dan penguasaan panggung.
  3. Vokal/Artikulasi (20%) – Kejelasan makhraj huruf dan intonasi.
  4. Kreativitas (15%) – Kostum, properti, dan tata rias.
  5. Kesesuaian Tema (10%) – Relevansi cerita.

Gema Masrahiyyah 2026 membuktikan bahwa bahasa Arab bukanlah pelajaran hafalan yang kaku. Ia adalah bahasa yang hidup, indah, dan penuh ekspresi. Melalui seni peran, para peserta didik tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh kolaboratif, dan percaya diri.

“Sebagai Guru Bahasa Arab sekaligus Koordinator Acara, saya merasa sangat bangga dan terharu melihat dedikasi yang ditunjukkan oleh seluruh peserta didik. Teruslah bersinar di panggung literasi Arabiyah!”

Selamat kepada para pemenang!

Simak cuplikan penampilan memukau mereka melalui video di reel akun instragram @albahjah_batamputri, dengan link berikut: https://www.instagram.com/reel/DUfJ7ETk757/?igsh=cGowdTQ0emJ5eGVz

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait